Pelajar SMKN 63 Jakarta Maju Tak Gentar Hadapi Gagal Panen Akibat Banjir

Sumber berita: TABLOIDSINARTANI.com

Para Pelajar SMKN 63 Jakarta Kembali Semangat Bertanam Lagi Pasca Bencana Banjir di Jakarta | Sumber Foto:Indri Hapsari

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta-Banjir yang melanda Jakarta tepat pada awal tahun baru 2020 sangat mengganggu aktifitas masyarakat, tidak terkecuali warga sekolah SMKN 63 Jakarta. Sekolah peserta program Kementerian Pertanian “Pertanian Masuk Sekolah (PMS) ” ini harus menghadapi kenyataan, tanaman siap panen mereka terendam banjir. Namun berkat semangat yang luar biasa khususnya dari para siswa- siswinya,  lahan pun berhasil diolah kembali dan ditanami aneka sayuran.

Hal tersebut terlihat saat Monitoring dan Evaluasi (Monev) tim dari Kementerian Pertanian dan Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Perikanan (KPKP) Provinsi DKI Jakarta di satu-satunya sekolah kejuruan bidang pertanian di Jakarta, rabu (8/1). Tampak pucuk-pucuk hijau tanaman kembali tumbuh di lahan yang diolah kembali seminggu pasca banjir.

“Semangat anak-anak ini luar biasa, di luar dugaan kami sebagai pengajar di sekolah ini. Sehari pasca banjir tanggal 1 Januari, keesokan harinya mereka langsung mencangkul, mengolah lahan lagi dan selanjutnya menanam bibit, ” kata Kepala Sekolah SMKN 63 Jakarta, Valentina Purnama Dewi.

Program PMS mulai dilaksanakan akhir 2019 dan berlanjut ke tahun 2020 diikuti oleh 68 SMA/SMK/MA di 34 provinsi seluruh Indonesia. Untuk DKI Jakarta diwakili oleh 2 sekolah yaitu SMKN 63 Jakarta dan SMA 109 Jakarta, keduanya berada di wilayah Jakarta Selatan.

Valen, sapaan akrab Kepala SMKN 63 Jakarta, menjelaskan bahwa ada sebanyak 320 orang anak didiknya yang terlibat dari PMS. “Saya ada cerita sedikit. Siswa/i yang terlibat ini, awalnya tidak berminat di bidang pertanian. Tetapi berkat ada bimbingan dari BPTP Jakarta (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian) dan pihak lainnya seperti orang tua, mereka tidak ragu untuk menekuni dunia pertanian,” ungkapnya.

Fasilitas pendukung pun cukup lengkap, ada lahan yang memadai, rumah bibit, hingga sarana hidroponik juga tersedia. Tenaga pengajar sebagian besar adalah lulusan pertanian dari berbagai perguruan tinggi ternama.

“Rumah bibit kami untuk pembibitan tanaman cabai, serta praktek teknik sambung batang durian. Sebagian bibit tanaman cabai sudah kami tanam di lahan. Hidroponik kami sedang mengembangkan tanaman Sawi Samhong yang ukurannya lebih besar dari sawi biasa, serta tekstur lebih renyah,” tutur Valen.

Reporter : Indri Hapsari